Dyah Rinni · Punya Sendiri · Qanita · Review 2014 · Romance

Review: Marginalia – Dyah Rinni

Judul: Marginalia

Pengarang: Dyah Rinni

Jumlah Halaman: 304 halaman

Terbit: 2014

Penerbit: Qanita (Mizan)

Genre: Romance. Drama.

 

Sinopsis:

Aku Yudhistira, aku Arjuna,

aku Bima, aku Nakula Sadewa.

Berapa Bharatayudha harus kujalani.

Demi kamu. Drupadiku?

Aruna

CENGENG! Tulisan singkat dan rapi di kumpulan puisi Rumi kesayangan almarhum Padma membuatku terbakar. Kurang ajar! Berani-beraninya cewek dingin berhati belatung itu menodai kenangan Padma. Belum tahu dia berhadapan dengan siapa. Aruna, vokalis Lescar, band rock yang paling diidolakan. Tunggu pembalasanku!

Drupadi

Aku tak punya waktu untuk cinta. Meski nyaris tiap hari aku berhubungan dengan yang namanya pernikahan, ini hanya urusan bisnis semata. Aku tak percaya romantisme, apalagi puisi menye-menye. Hidup ini terlalu singkat untuk jadi melankolis. Namaku memang Drupadi, tapi hatiku sudah tertutup untuk laki-laki.

“Kekasih tak begitu saja bertemu di suatu tempat, mereka sudah saling mengenal sejak lama.”

—Rumi

♥♥♥

Jangan buat dia meninggal dengan sia-sia, Ren. Buat uang sebanyak-banyaknya untukku.”

—Bab 2, halaman 29—

Kenapa ya buku-buku sekarang cepet banget masuk rak obral? Sedih liatnya :’

Dapet buku ini pas ke TM Bookstore. Dulu pengen tuh ikut lomba Romance Qanita ini. Tapi apa daya, nggak ada ide, huahahaha. Pas ke TM, akhirnya beli deh buku yang jadi juara satu, dua, dan tiga.

Marginalia bercerita tentang Aruna si vokalis band rock yang ditinggal pergi kekasihnya, Padma. Padma sering membuat marginalia—catatan pinggir—di buku kumpulan puisi Rumi, buku favoritnya. Sepeninggal Padma, buku itu dikembalikan lagi oleh Aruna ke tempat buku itu semula ada, di kafe Marginalia. Kafe milik sepasang suami-istri yang menyediakan buku bacaan yang boleh ditulisi di bagian pinggirnya.

Suatu hari, Drupadi, perempuan yang masih “digantung” oleh Adnan sang kekasih, menemukan tempat ini. Ditantang oleh Sonya—pemilik kafe—untuk menuliskan sebuah marginalia, akhirnya ia mengambil buku kumpulan puisi Rumi dan menulisi marginalia pertamanya di sana.

Kemudian bermainlah takdir, di mana Aruna marah karena menemukan hinaan Drupadi dan balas menghina Dru.

Gue nggak bisa berhenti baca “percakapan” mereka lewat catatan pinggir ini. Sumpah, sejak awal gue sempet nggak ngerti, apaan sih marginalia? Gue pikir kaum marjinal, huahahahaha. Imajinasi dan kebodohan gue emang kadang campur jadi satu.

Beberapa bulan yang lalu sempet baca ini, tapi stuck dan akhirnya buku ini cuma mejeng di rak buku. Tapi kemarin, akhirnya buku ini dapet gilirannya untuk dibaca.

Dan, yeah, gue nggak nyesel! Marginalia keren banget!!! Alurnya berjalan begitu aja sampai-sampai bikin gue nggak sadar kalau gue udah tenggelam aja dengan kisahnya. Gue suka ketika Aruna malah terpesona saat ngeliat Dru untuk pertama kalinya. Apalagi dengan kemampuan Aruna menyatukan dirinya dengan segala hal tentang Dru.

Ugh, sweet banget!

Sampai-sampai gue mikir, kapan ya gue bisa ketemu orang kayak Aruna? Huahahaha.

Yang disayangkan dari Marginalia, kurang dalamnya pengetahuan untuk pembaca mengenai profesi Aruna dan Dru. Yaaa, tapi nggak apa-apa sih, bukan minus yang berarti kok.

Oh ya, font-nya kok gede banget ya? (O.O)

Udahlah, gue speechless kalau ngomongin novel ini. Gue nunggu novel mbak Dyah Rinni yang lainnya!! \m/

“Aku juga begitu, Sonya. Aku ingin memenangkan Drupadi,

Hanya saja, aku nggak tahu bagaimana caranya. Aku hanya tahu, kalau aku diam saja, aku akan kehilangannya…”

—Bab 20, halaman 237—

 

RATE:

bintang 5

jejen

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s