Almira Raharjani · Alvi Syahrin · Amore · BBI · Chicklit · Curhat · GagasMedia · Gramedia Pustaka Utama · Metropop · Odet Rahmawati · Opini Bareng 2015 · Riawani Elyta · Rina Suryakusuma · Ruth Priscilia Angelina · Sophie Kinsella · STPC

Opini Bareng: My Expectation(s)

 

Helloooo! Huaah, gue kira postingan Opini Bareng ini ada jadwalnya. Makanya dari kemarin pas lagi males nyentuh blog, ikutan males karena takut nggak keburu. Ternyata oh ternyata, mata gue yang udah empat ini mestinya bekerja dengan hati-hati, hahaha.

Jadi, ngomongin apa kita kali ini?

Yup, sesuai judul di atas, kita bakal ngomongin tentang ekspektasi gue mengenai beberapa hal. #eaaa Sebelumnya sih gue bingung, apa ya yang bakal gue bahas? Tapi akhirnya nemu juga deh. Emang dasarnya males mikir aja sih.

  1. Bagus mana: Film atau novelnya?

Hal ini baru kali ini terjadi, hohoho. Sebelumnya, gue nggak terlalu mempermasalahkan tentang novel yang diadaptasi jadi film lalu kekecewaan beberapa orang tentang perbedaan yang mencolok di filmnya.

Menurut gue sih, mengadaptasi sebuah novel jadi sebuah film itu memang nggak mudah. Tapi … mana yang biasanya lebih bikin kecewa? Novelnya? Filmnya?

Kalau dalam kasus gue, kayaknya bukan salah mereka berdua halah. Masalahnya ada di dalam diri gue (?). Tentang yang mana dulu yang gue liat.

 

Contoh, kayak Confessions of A Shopaholic. Waktu itu gue nonton filmnya dulu karena kebetulan ditayangin di TV. Dan gue bener-bener jatuh cinta sama semua tokoh-tokohnya, jalan ceritanya, dan … pokoknya semuanya deh! Mungkin karena gaya hidup gue nyaris kayak Rebecca Bloomwood. Borosnya nauzubillah. Baru sadar hal yang dibeli itu nggak penting saat duit udah melayang. kayaknya mayoritas cewek begini ya?

Terus, beberapa lama kemudian, gue baru nemu novelnya. Gue baca dan … what? Begini doang? Kenapa nggak sedeg-degan di filmnya pas dikejar pihak bank? Kenapa romance-nya nggak sebagus di film? Kenapa isinya lebih banyak pergulatan batin? Kenapa? KENAPA GUE LEBAY? #hiks

Mungkin karena yang satu novel dan yang satunya film. Karena ini adalah novel dijadiin film, pergulatan batin itu dibuat jadi serangkaian adegan yang mendukung. Yeah, gue terlalu berekspektasi tingkat tinggi saat baca bukunya setelah udah pernah nonton filmnya. Jadinya ya begitu …. *nyanyi lagu Kecewa-nya BCL*

 

  1. Cover-nya sih biasa, isinya?

Don’t judge a book by it’s cover. Yaelah, pepatah lama yang sering diplesetin orang-orang namun pada akhirnya bikin gue kepeleset.

Kadang, gue bisa dengan khilafnya beli novel hanya dengan ngeliat cover. Tanpa peduli blurb atau review yang udah ada, akhirnya beli. Seringnya sih terbalik. Cover-nya kadang bikin gue mengerutkan dahi, tapi isinya bikin gue cengar-cengir.

Packaging emang menentukan banget ya, bok!

Contohnya, kayak Forever Monday-Ruth Priscilia Angelina. Itu cover-nya simple banget. Tapi isinya nggak sesimpel itu. Hahaha. :’D

Lalu ada Selamat Datang, Cinta-Odet Rahmawati. Cover-nya lucu. Tapi entah kenapa gambar kakinya itu ngingetin sama celotehan temen gue, “Ketika kaki lebih eksis ketimbang muka.” *lalu ngakak* Tapi sayang, udah tiga kali nyoba baca, nggak bisa lewat dari dua puluh halaman pertama. Mungkin … ekspektasi gue yang terlaluuuu tinggi dan memang bukan tipe bacaan gue.

 

  1. Lini baru yang cukup menggiurkan

Oke, ini yang terakhir. Hohoho.

Lini baru? Iya, akhir-akhir ini banyak penerbit mengeluarkan (?) lini baru. Contohnya, di GPU ada Amore. Ya nggak bisa dibilang baru juga ya kalau sekarang? Hm.

Baca Amore, memang bener-bener harus selektif bagi gue. Ada yang cukup memuaskan. Karyanya Mbak Rina Suryakusuma gue kasih tiga setengah hati gue untuk Lukisan Keempat dan Postcard From Neverland. Eh, betewe, di dua ini lakinya tipe kesukaan gue, hot daddy! #plak

Tapi ada juga yang mengecewakan. Bahkan gue cuma bertahan sampai halaman 64. *sesuatu yang haram bagi gue ketika baca tapi nggak selesai, hiks* (A) Mission-nya Almira Raharjani, contohnya.

Oh, dan juga STPC-nya GagasMedia. Entahlah, di STPC satu masih bisa jatuh cinta dengan isi maupun cover-nya. *tetep yee cover jadi bahasan* Tapi pas di STPC season dua, sorry, kalian tak bisa membuatku jatuh cinta, kawan! #halah

Tapi lebih suka sama STPC versi Bukune sih. Entahlah, mungkin karena Swiss dan First Time in Beijing bener-bener nyantol di kepala gue sampai sekarang. Hohoho.

Haaah, segitu aja dari gue. Gue bingung mau nulis apa lagi. Wkwkwk.

 

christmas background black and white

Iklan

2 respons untuk ‘Opini Bareng: My Expectation(s)

  1. Cover yang menipu selalu terjadi pada aku. Covernya kelewat simpel dan nggak banget (mengingat aku menyukai cover simpel, tapi ke’simpel’an pun ada batasnya, hehe). Coba baca postku: https://starlibrary.wordpress.com/2015/01/29/opini-bareng-january-expectation/ seperti yang aku tulis di post itu, buku Mei Hwa: Sang pelintas jaman memiliki cover yang bikin illfeel, penulisnya pun sangat asing bagiku. Pada akhirnya, aku menemukan hal-hal yang melebihi ekspetasiku saat membaca buku itu! recommended banget loh!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s