DAR! Mizan · Pidi Baiq · Punya Sendiri · Review 2015 · Teen Fiction

Review – Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Judul: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Pengarang: Pidi Baiq

Jumlah Halaman: 332 halaman

Terbit: April 2014

Penerbit: DAR! Mizan

Award: Anugerah Pembaca Indonesia Nominee for Buku dan Penulis Fiksi Terfavorit – Shortlist (2014)

 

Sinopsis:

“Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja” (Dilan 1990)

“Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang.” (Dilan 1990)

“Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.” (Milea 1990)

♥♥♥

Rasanya gue pengen teriak: KEMANA AJA LO, JEN, SAMPE BARU BACA NI BUKU SEKARANG?

*mulai menjadi dramaqueen*

Oke, gue punya beberapa alasan kenapa baru baca buku ini. Tapi itu nggak penting, yang penting adalah, kehadiran Dilan versi 2015 yang seumuran sama gue dan berjodoh sama gue. Please, itu penting banget, sodara-sodara! :’)

Baiklah, langsung aja mendingan. Daripada gue fangirling-an sendiri.

Cerita ini tentang Milea, anak Jakarta yang akhirnya pindah ke Bandung saat kelas 2 SMA. Di awal-awal dia masuk sekolah, dia ketemu sama anak geng motor yang bajunya aja nggak pernah rapi dan mengaku sebagai peramal.

Tadinya Milea sempet ngerasa gimanaaa gitu sama cowok ini. Secara ya, udah anak geng motor, bikin onar mulu di sekolah. Tapi akhirnya Milea kok ya jadi nyaman sama cowok tukang ramal ini?

Namanya Dilan.

Kelakuannya aneh. Dia tau aja tentang Milea. Ngaku bisa ngeramal, selalu jalanin motornya di samping Milea dengan pelan dari tempat Milea turun angkot menuju sekolahnya.

Tapi … kok Milea lama-lama ngerasa nyaman ya kalau lagi sama Dilan?

Ups, Milea nggak boleh lupa, dia udah punya pacar. Namanya Beni. Sekarang mereka LDR-an gitu. Beni di Jakarta, Milea di Bandung.

Seiring dengan waktu, ketika Milea mulai nyaman sama Dilan, datanglah kejadian itu. Di mana Beni berlaku kasar dan bikin Milea sadar … Dilannya lebih baik ke mana-mana daripada Beni!

♥♥♥

Baca buku ini bikin gue senyum-senyum. Sayang ya, tahun 1990 gue belum lahir. Wkwkwk.

Mungkin ini romantisme ABG kala itu kali ya? Atau sampai sekarang masih begini?

 

“Jangan ketawa.”

“Biarin,” kataku. “Kalau aku marah ke kamu?”

“Baguslah.”

“Bagus? Biar aku gak mau ketemu kamu?”

“Biar jadi ujian buat aku, bisa enggak membuat kamu menjadi tidak marah.”

  • Halaman 154

Tuh, siapa yang nggak meleleh woooy? #abaikan

Soalnya, kalau yang gue perhatiin, sekarang-sekarang jarang laki-laki kayak gini. Mau deh, satuuuuu aja. Hohoho.

Dilan itu laki-laki dengan kata-kata sederhana tapi bisa bikin meleleh hati banyak wanita. Terbukti kan? Hahaha. Romantisnya Dilan itu sederhana, nggak berlebihan. Milea seneng, dia seneng. Milea dijahatin, beuh, jangan tanya deh apa yang dilakuin Dilan.

Banyak banget yang gue suka dari buku ini, apalagi pas bagian TTS. Astagaaaa, apa semua laki-laki bisa sepemikiran itu?

Ng, pasti nggak bisa sih. Namanya juga manusia, isi kepalanya beda-beda.

Kalau cowok jaman sekarang, kebanyakan ngasih kado ulang tahun itu kalau nggak ya boneka, bunga, atau ya … you know, lah. Bahkan, dulu cowok gue cuma bilang, “Kamu mau apa? Kita beli, aku yang bayar.”

Grr ….  Ya Tuhan, cukup sekali aku dipertemukan dengan cowok macem itu.

Buku ini menceritakan Dilan dari sudut pandangnya si cantik Milea. Gue suka manggut-manggut tanpa sadar karena sepemikiran sama Milea. Tanpa peduli kalau gue lagi baca itu sambil berdiri di kereta. Satu tangan megang buku, satu tangannya lagi pegangan tiang besi itu.

“Kamu pernah nangis?” kutanya.

“Waktu bayi, pengen minum.”

“Bukan, ih!” kataku. “Pas udah besar. Pernah nangis?”

“Kamu tau caranya supaya aku nangis?” dia nanya.

“Gimana?”

“Gampang.”

“Iya, gimana?”

“Menghilanglah kamu di bumi.”

  • Halaman 262 –

Kadang gue nggak bisa nahan senyum, bodo amat deh orang mikirnya apa. Yang penting mereka harus tau, “Kalau lo mau seneng, mau ketawa, tanpa dijamin ketawa oleh penulisnya (?), yuk baca Dilan! Dan kita jatuh cinta bareng-bareng!”

Kayaknya review kali ini nggak bisa dibilang review juga. Ini kebanyakan curhatnya. Huahahaha. Dan nggak sabar begitu tau nanti ada buku keduanya! Ayah Pidi, aku mau dong Dilan di tahun 2015 :’)

Lima hati buat Dilan tahun 1990! Nunggu yang 1991, euy!
Lima hati buat Dilan tahun 1990! Nunggu yang 1991, euy!

jejen

2 tanggapan untuk “Review – Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s