Dewasa · Elex Media Komputindo · Merry Maeta Sari · Punya Sendiri · Review 2015 · Romance

Review: A Wedding After Story – Merry Maeta Sari

 

 

Judul: A Wedding After Story

Pengarang: Merry Maeta Sari

Jumlah Halaman: 264 halaman

Terbit: 15 Oktober 2014

Penerbit: Elex Media Komputindo

 

Sinopsis:

Menikah dengan orang yang disayangi dan menyayangi kita pasti menjadi impian semua orang. Tapi apa yang terjadi kalau kita menikah dengan orang yang tidak kenal?

Demi membahagiakan orangtua, kita harus melakukannya. Itulah yang dialami oleh Aga dan Aira. Sempat kabur dari akad nikah yang kemudian digagalkan oleh keluarga, mau tidak mau pernikahan harus dilangsungkan. Ternyata pernikahan tidak seburuk yang mereka pikirkan, walaupun banyak kejadian-kejadian aneh, lucu, membahagiakan dan sedih. Kehadiran orang di masa lalu juga mewarnai pernikahan mereka.

Editor’s Note:
A Wedding After Story diceritakan dengan sangat lugas. Kejadian-kejadian lucu mewarnai novel ini. Pembaca tidak akan bosan, karena tidak hanya kisah-kisah yang sedih saja tapi kejadian lucu dan menyegarkan juga dihadirkan.

 ♥♥♥

Heyaaa, kayaknya kerajinan gue buat nge-review lagi meningkat nih, wkwkwk.

Oh, ya, welcome February! Semoga royalti di bulan ini mengalir lancar. Tau kan jalan pulangnya? Huehehe. *malah curhaaaaat*

*digeplak*

Oke, kali ini gue nge-review novel yang ditulis oleh salah satu temen gue di Wattpad. Mbak Metaaa! Wkwkwk.

Sebelumnya, A Wedding After Story ini pernah mejeng di Wattpad. Lalu dihapus karena bakal naik cetak.

Buku ini gue beli di Gramedia Botani Square, Bogor. Beli karena iseng. Abisnya, gue kan waktu itu dari Palmerah Barat, dari kantornya Kak Afri. Naik bus APTB malah kebablasan sampe Ciawi. Niatnya mah mau turun di Cawang. Siaaaaal! Nyasar jauh gile.

Tapi ya udah, nggak usah dibahas lagi perjalanan absurd gue waktu itu.

♥♥♥

Aga dan Aira, dua orang yang dinikahkan karena perjodohan dan sama-sama kabur di hari pernikahan mereka. Tapi, tenang, mereka berhasil nikah, hahaha.

Aga menyetujui untuk menikah dengan perempuan yang wajahnya aja belum dia tau ini, karena menurut papanya, akan lebih mudah kalau Aga duduk di kursi direksi dengan status sudah menikah. Lebih fokus, katanya.

Aira yang habis ditinggal nikah pacarnya, menyetujui untuk menikah karena sebelumnya dia menantang mamanya untuk mencarikan laki-laki yang lebih baik dibanding Fadli, mantannya itu.

Mereka pun hidup dalam satu rumah. Aga yang ngeliat Aira seksi kalau jutek, justru jadi makin pengen nananina sama Aira. Sedangkan Aira makin sebel karena tingkah Aga yang menjijikkan kalau lagi ngegombal.

Ketika mereka mulai bisa menerima kehadiran satu sama lain, muncul seorang anak perempuan lucu di depan rumah mereka. Nggak cuma itu, anak bernama Fian itu manggil Aga ‘Papa’ dan manggil Aira ‘Mama’.

Bisa apa kedua orang yang baru aja berdamai dan mengungkapkan perasaan mereka itu, ketika dihadapkan dengan seorang anak kecil? Dan … bagaimana jika masa lalu Aga kembali di tengah-tengah mereka?

♥♥♥

Baca buku ini cuma butuh dua jam ternyata, hehehe. Jadi, A Wedding After Story ini adalah buku pertama yang berhasil finish di awal bulan Februari ini. Maaf ya Lara Jean-nya To All The Boys I’ve Loved Before yang gue selingkuhin, hehehe.

Lagi pengen baca romance lokal mendadak. Semalem nyokap nyeritain novel ini lengkap dengan spoiler-nya. Huft, apa gue bilang, nyokap lebih gaul kan sekarang?

Oke, tema yang diangkat adalah kehidupan sepasang pengantin baru akibat perjodohan. Di awal-awal gue langsung mikir, apa iya otak laki kebanyakan pada di selangkangan semua ya? Abisnya, Aga mikirin nananina mulu, hahaha.

Buku ini diawali dengan POV 1 dari Aira, tokoh utama perempuan di novel ini. Lalu dilanjut dengan POV Aga. Terus … gue mengernyitkan kening saat POV-nya tiba-tiba berpindah ke POV orang ketiga.

Gue pernah baca—atau denger ya? Entah gue lupa—ketika sebuah novel menggunakan lebih dari satu POV, berarti penulisnya belum mampu menggambarkan suasana dan lainnya menggunakan POV yang dari awal ia pilih. Maksudnya, bukan POV 1 tapi dari banyak tokoh. Bukan, tapi menggunakan dua jenis POV yang berbeda di satu buku.

Hal itupun gue tau setelah beberapa saat gue nulis dengan POV campur begitu, hahaha. Makanya jadi pelajaran banget sih. Mungkin, kalau mau nyeritain dari sisi orang lain selain dua tokoh utamanya, ya ceritain aja pakai POV 1 orang itu. Misalnya mau nyeritain tentang kehadiran Fian dan sosok masa lalu Aga, ya ceritain aja pakai POV orang ini. Nggak apa-apa pakai POV-nya orang ini kalau penulis mampu menggambarkan dari sudut pandangnya dan membedakan pemikirannya dari Aga dan Aira.

Itu kan yang dimaksud dengan adanya POV orang ketiga ini? Menggambarkan permasalahan yang belum diketahui Aira dan Aga saat itu? Ya, gunain aja POV 1 tapi dari sisi orang ini. Soalnya pergantian yang nggak ada aba-abanya, kadang sempet bikin keder juga.

Apa ini karena gue bacanya sambil tiduran?

*halah*

Dari sisi penokohannya, gue belum memutuskan sampai menutup buku ini, siapa favorit gue. Nggak terlalu suka sama Aga—apa karena guenya aja ya yang bosen sama cowok tipe begitu?

Nggak terlalu suka sama Aira, kok ya kamu gitu banget sih, Mbak, pas nerima si Fian?????

*pengennya lebih ada perasaan yang digali lagi*

*dipikirnya perasaan itu kuburan*

*maklum orangnya dramatis abis emang*

Agak keganggu sama penulisan kata-kata yang diucapkan tokohnya dengan teriak, itu kenapa mesti di-caps lock semua tho? Setelah nimbus halaman 150-an, agak capek juga bacanya.

Ada beberapa typo, kesalahan pengetikan, dan … semacam itu deh. Tapi nggak banyak juga, masih bisa ditolerir lah sama gue. Ya buktinya sampe selesai kan bacanya? Wkwkwk.

  1. “Ck… ck… ck…” Bastian menggeleng-geleng dramatis,” aku ngaku kalah deh …” (halaman 8) = “Ck… ck… ck…” Bastian menggeleng-geleng dramatis, “aku ngaku kalah deh …”
  2. Benar benar gadis aneh. (halaman 12) = Benar-benar gadis aneh.
  3. “Genta! Bantuin gue Ah, gampang! Voucher makan gratis di restoranku selama seminggu, gimana?” (halaman 13) = Adanya inkonsistensi, pertamanya nyebut diri sendiri sebagai gue, tapi nyebut restorannya jadir restoranku.
  4. Penulisan kata-kata berbahasa Inggris yang ditulis masih dengan huruf miring atau dengan italic pada bagian Masalahnya, pas bagian flashback itu, semuanya kan dicetak miring, harusnya yang bahasa Inggrisnya itu justru dicetak biasa kan? *cmiiw ya*
  5. Banyak awal kalimat yang hurufnya bukan huruf kapital.
  6. Kalau bisa pisah kenapa enggak. Batin Aira. (halaman 29) = Kalau bisa pisah kenapa enggak, batin Aira.
  7. Dan kenapa banyak juga tulisan Ck… ck… ck… dan Kayaknya kedua tokoh ini sama-sama suka berdecak, hihihi. :p
  8. Hanna mengacuhkannya, ia hanya duduk di sebelah pria itu lalu mengeluarkan sebatang rokok. (halaman 142) = Kata mengacuhkannya di sini sepertinya salah arti. Iya, maksud penulis, Hanna itu nyuekin pria itu, nggak peduli gitu. Tapi kata mengacuhkan yang berasal dari kata acuh itu kan artinya peduli. Jadi makna kalimat ini sebenarnya adalah Hanna memedulikannya, kesalahan yang kadang sering kita jumpai karena adanya salah kaprah. :v Coba dicek lagi ya KBBI-nya 😀

Dari kbbi.web.id = mengacuhkan /meng·a·cuh·kan/ v memedulikan; mengindahkan

  1. “Maaf, membuat Anda menunggu lama, kata Aira setelah memasuki ruangannya. (halaman 153) = “Maaf, membuat Anda menunggu lama,” kata Aira setelah memasuki ruangannya.
  2. Aira POV (halaman 191) = Nah!! Ini kata POV-nya lupa dihapus kayaknya. xD

Yang bisa gue jabarin sih cuma segitu. Kayaknya masih ada, tapi ya itu kesalahan minor dengan poin yang hampir sama kayak di atas. Namanya juga kerjaan manusia, mana ada sih yang perfect? *Ahiy!*

Dari segi cerita, menghibur, tentu aja. Ringan, kocak, apalagi pas bagian si Aga ngegodain Aira. Hihihi. Cuma mungkin gue harus menghindari sejenak cerita dengan cowok sejenis ini. Lama-lama agak jenuh juga. Di Wattpad ketemu yang begini, di buku paperback juga ketemu yang begini. Ah, masalah selera doang sih sebenernya.

Maklum, lagi demen cowok berhati sehangat mentari tapi kelakuannya kadang sedingin cuaca hari ini. *halah* Gue perempuan berhati batu, soalnya. Wkwkwk.

Buat Mbak Meta, peace yo! Wkwkwk. Semoga tahun ini menelurkan novel lagi! Ditunggu terus karya-karyanya. :3

Tiga hati buat juteknya Aira~
Tiga hati buat juteknya Aira~

jejen

Iklan

One thought on “Review: A Wedding After Story – Merry Maeta Sari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s