Baca Bareng 2015 · Dewasa · Elex Media Komputindo · Indah Hanaco · Punya Sendiri · Review 2015 · Romance

Review: A Scent of Love in London – Indah Hanaco

Judul: A Scent of Love in London

Pengarang: Indah Hanaco

Jumlah Halaman: 376 halaman

Terbit: Februari 2015

Penerbit: Elex Media Komputindo

Sinopsis:

Ivana Zelde bukan sosok sempurna yang diimpikan para gadis. Dia penderita disleksia bahkan hingga sampai taraf tidak mampu membaca, dikhianati kekasih dengan cara yang sulit dibayangkan memang terjadi di dunia nyata. Karena kekurangannya, seumur hidup Ivana dihujani perhatian yang justru dianggap menyesakkan.

Hugh Joaquin Levine pernah berada di puncak dunia. Hingga kecelakaan di Valencia seakan merenggut udara dan gravitasi dari hidup Hugh. Semua jungkir balik dan membuat cowok itu berakhir dalam kondisi menyedihkan.

Hugh pernah sangat ingin mengakhiri hidupnya, hingga bertemu dengan Ivana. Lalu dunia bergerak cepat di sekitar mereka, termasuk perasaan yang terus bertumbuh tanpa bisa dihalau. Namun mereka punya terlalu banyak perbedaan sehingga sulit untuk tetap bersama. Tapi, apakah Hugh kembali menyerah dan melepaskan Ivana dengan mudah? Karena tanpa Ivana, Hugh takkan bisa bahagia lagi.

♥♥♥

Tema bulan Februari: Profesi

“Oh, aku sungguh menyerah kalau harus berurusan dengan perasaan perempuan. Ada apa sih dengan prasangka? Kenapa kalian suka sekali membuat dugaan sepihak?”

-Halaman 219-

Cerita ini dimulai dengan prolog yang … unpredictable. Dibilang manis, iya. Dibilang agak tragis, iya.

Hah, ini buku kedua gue di bulan Februari. Milih buku ini untuk dibaca juga awalnya karena … iseng. Hehehe. Buku ini soalnya abis disampul, langsung masuk ke daftar timbunan nyokap. Jadi ngantri dulu. Tapi akhirnya dilempar ke gue dulu, karena doi lagi ketawa-ketawa sama Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990. Hahaha. 😀 Sakseis dah pokoknya ngeracunin si emak.

Oke, balik lagi ke novel ini. Pertama, gue suka sama cover dan layout-nya. Manis.

Dan … cerita ini bermula dengan putusnya hubungan Ivana dengan Damon yang ternyata … menyimpang, guys! Padahal, awalnya Ivana ngerasa seneng karena ada orang yang mau cinta sama dia dengan segala kekurangannya. Ivana mengidap disleksia parah sehingga dia buta huruf, dan membuat Ivana serasa terkekang karena overprotective-nya seluruh anggota keluarga.

Karena patah hatinya inilah, berbulan-bulan setelah kejadian itu, Ivana memutuskan untuk ke London.

Di London, ada Hugh Joaquin Levine. Pembalap GP2 yang siap naik tingkat ke Formula One. Tapi naas, bahkan sebelum Hugh mencicipi pertandingan pertamanya di Formula One, kecelakaan itu merenggut semuanya dengan paksa dari Hugh. Hidupnya, kelengkapan fisiknya, kariernya, hingga pacarnya sendiri memutuskan untuk hengkang dari sisi Hugh.

Karena kehancuran inilah, berbulan-bulan setelah kejadian itu, Hugh memutuskan untuk bunuh diri di tempat paling strategis. Di Oxford Street.

Di sinilah mereka bertemu. Di upaya bunuh diri ketiga dari Hugh Joaquin Levine. Si pembalap yang dikabarkan resmi mundur dari panggungnya itu. Setelah Ivana berhasil menyelamatkan Hugh dari double decker yang bisa saja menabrak Hugh, keduanya duduk berhadapan di sebuah restoran favorit Hugh semasa remaja.

Hugh, yang psikologisnya terluka karena kecelakaan beberapa bulan silam, menjadi begitu ketus dan sinis terhadap orang-orang di sekitarnya. Menenggelamkan sisi ceria dan bahagia yang dulu ada pada dirinya. Tapi bersama Ivana, hanya dalam hitungan jam dan sebuah pelukan yang menyelamatkan Hugh, semuanya berubah.

Satu minggu, adalah waktu yang mereka sepakati untuk mulai menceritakan rahasia masing-masing. Lalu … percayakah orang-orang di sekitar mereka, bahwa satu minggu adalah waktu terlama untuk merasakan adanya cinta di antara mereka?

♥♥♥

Key to be lasting in love is a consistant believe.

-Halaman 242-

 

Jadi, selain layout-nya yang lucu, seperti biasa, tulisan Mbak Indah selalu bikin gue terbuai. Ahiy~ Sejak baca tulisannya di novel Beautiful Temptation, gue langsung rajin berburu novel-novelnya Mbak Indah 😀 *jadi inget belum beli yang After Sunset, ihik*

Novel ini gue pilih untuk postingan Baca Bareng bulan ini. Bulan Februari, tema Baca Barengnya adalah tentang Profesi.

Yap, kayak yang udah gue jabarin di atas, Hugh di sini berprofesi sebagai pembalap. Agak jarang ya nemuin novel dengan profesi ini. Mungkin karena Mbak Indah juga penggemarnya Michael Schumacher, jadi lebih menjiwai untuk bagian profesinya Hugh. Hihihi :p *sotoy amat, Jen*

Gue suka dengan pendeskripsian pekerjaan Hugh di sini. Nggak berkesan cuma tempelan dan benar-benar detail. Sampe-sampe gue yang buta sama dunia inipun jadi berdecak kagum karena nambah ilmu baru. Hihihi. Ternyata jadi pembalap hampir-hampir kayak artis ya, disorot kamera terus. Pfft.

*peluk Hugh*

*eaa*

Kelebihan di novel ini, adalah chemistry serta penokohan dua karakter utamanya. Hugh dan Ivana. Dengan semua kekurangan dan kelebihan mereka, novel ini bener-bener bukan sekedar fiksi yang tokohnya almost perfect. Dan dari novel ini kita bisa belajar, bagaimana rasanya mereka yang punya kekurangan, tapi selama ini tanpa disadari oleh orang-orang disekitarnya, merasa tertekan dengan kelebihan proteksi yang diberikan.

“Aku pun sama saja. You are not perfect, but you can make me perfect. Saranku, kita akan menghabiskan hidup kita untuk mencubiti diri sendiri, meyakinkan kalau ini memang nyata. Setuju?”

-Halaman 253-

Mereka kekurangan bukan berarti mereka harus berdiam diri di rumah kan? Mereka berhak melihat dunia, dan dunia berhak melihat mereka.

Kira-kira begitulah.

 

“Aku tidak bisa melihatmu kalau aku di dalam sana sendirian, dan itu membuatku tidak tenang. Aku tidak bisa memastikanmu baik-baik saja atau tidak,” Hugh beralasan.

“I’m sure you’re only exaggerating!” sergah Ivana. Gadis itu tertawa untuk menutupi perasaan yang sesungguhnya.

Hugh menyipitkan matanya. Bibirnya menipis. “Kamu kira aku sedang bercanda, ya? Aku tidak tahu bagaimana caranya bicara jujur tanpa dianggap sedang merayu. Terserah kalau kamu menganggapku berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi kalau memang itu yang kurasakan?”

-Halaman 259-

 

Untuk romance-nya, huaaaah, harus gue bilang apa? Gue suka!!!! *lebay banget tanda serunya*

Mungkin ada yang mikir, nggak mungkinlah bisa jatuh cinta secepet itu. Tapi … ini cinta gitu lho! Bukan Rangga! #halah Cinta kan nggak bisa dipikirin dan nggak ada teorinya. Dan gue bisa memahami perasaan Hugh-Ivana. Gimana cemasnya Ivana, gimana cara Hugh ngelindungin Ivana, gimana cara mereka menyalurkan kekuatan untuk masing-masing, rasanya itu … pas. Nggak berlebihan tanpa adegan-adegan sweet yang bikin kening berkerut.

Ivana kebingungan. “Apa tugasku?”

Suara Hugh begitu percaya diri saat menjawab. “Tentu saja untuk menemani dan mencintaiku.”

-Halaman 284-

 

Apalagi kalau mereka di sini udah agak ‘ngelantur’, omongannya itu lhoooo, bikin senyum-senyum sendiri. Hahaha.

“Hei, bukan aku penyebabnya. Dia yang nekat mau berpisah dariku. Sudah tahu cintanya terlalu besar, masih saja merasa mampu hidup tanpaku.”

-Halaman 286-

 

Sisanya, cuma kesalahan tulis nama adiknya Hugh. Di bagian awal-awal doang sih. Kadang ketuker dari Jean jadi Jane. Oh ya, gue juga suka sama adiknya Hugh ini. Dia soalnya periang banget, hihihi. Dan selalu nggak setuju kalau kakaknya pacaran sama yang pirang dan kurus kerempeng. Huahaha. Berarti gue masuk kriteria calon kakak ipar Jean dong? Ihiy!

Nah, buat lo yang mau baca novel ini, yuk cari bukunya. Novel ini nggak bicara hanya tentang cinta, tapi juga tentang memahami, menerima, dan hidup bersama kekurangan serta kelebihan yang ada di dalam diri kita. 😀

Lima bintang buat pasangan terkece iniii~

Sepenuh hatiku dan semua doaku buat pasangan ini :')
Sepenuh hatiku buat Hugh!!!

jejen

Iklan

One thought on “Review: A Scent of Love in London – Indah Hanaco

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s