Amore · Gramedia Pustaka Utama · Punya Sendiri · Review 2015 · Tia Widiana

Review: Sincerely Yours – Tia Widiana

 

Judul: Sincerely Yours

Pengarang: Tia Widiana

Jumlah Halaman: 248 halaman

Terbit: September 2015

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Amore)

 

Sinopsis:

Sebagai penulis novel thriller, orang kerap menyangka isi kepala Inge hanya seputar urusan pembunuhan. Terlebih lagi sikapnya yang pendiam dan lebih banyak mengurung diri di kamar.

Namun di mata Alan, Inge semanis penulis romance. Inge teman yang menyenangkan dalam segala hal. Alan dengan mudah dapat membayangkan Inge menjadi perempuan yang ingin ia nikahi, bukan Ruby… perempuan yang selama ini berstatus kekasih Alan.

Alan mewakili segala yang Inge inginkan dalam hidup. Kecuali satu hal… Inge tidak ingin mengulangi hal yang membuat hatinya terluka bertahun-tahun. Inge tidak mau Alan meninggalkan Ruby demi bersama dirinya.

Sebagai penulis, Inge selalu tahu bagaimana cerita yang ditulisnya akan berakhir. Tapi untuk kali ini, Inge tidak tahu bagaimana akhir kisahnya dengan Alan….

♥♥♥

Hai!

Akhirnyaaaa, nge-post juga di sini. Maafkan absennya gue yang terlalu lama. Blog ini mirip kuburan lama-lama. -_-

Well, kenapa udah jarang nge-post?

  1. Frekuensi membaca buku berkurang. Emang dasar lagi nggak bisa ngatur waktu. (jedotin kepala ke tembok)
  2. Mood nge-review jatuh ke dalam dasar jurang

Sekian alasannya. Kalau kebanyakan, gue bingung mau ngarang alasan apa lagi. #heh

Nah, sekarang, akhirnya mood baca dan nge-review gue balik lagi! Yeay!

Kali ini buku yang habis dilahap dalam sekali duduk adalah Sincerely Yours karya Tia Widiana.

Gue baru kali ini baca karyanya Mbak Tia. Yang Mahogany Hills belum baca, hiks.

Hm, gue tau novel ini dari salah satu temen bergunjing (?) gue. Katanya bagus (dan baper, menurut dia. Kalau gue nggak salah inget sih), dan cover-nya juga cantik. Ulala, akhirnya pas kemarin habis semedi di Dunkin, naiklah ke lantai dua buat beli buku ini di Gramed.

Oh ya, Amore sekarang cover-nya lucu-lucu ya. Suka deh. Fotonya cantik-cantik dan ceritanya pun manis-manis. Makin suka dengan kemajuan lini yang satu ini. Udah makin terkonsep dan bisa menarik hati. Kayaknya gue bakal jadi pembaca setia lini ini, hehehe. Begitupun dengan nyokap. Nyokap malah biasanya baca lebih dulu dari gue. Terus udah punya daftar penulis favoritnya sendiri.

Well, mungkin gue harus mengenalkan nyokap dengan blog dan Goodreads.

Oh, balik lagi ke Sincerely Yours.

Gue baca novel ini tanpa ekspektasi apa pun. Cuma satu sih harapan gue, semoga ada satuuuu aja aspek yang bisa bikin gue jatuh cinta dengan novel ini.

Dan… ternyata gue jatuh cinta dengan keseluruhan novel ini.

Cover? Check.

Premis? Check.

Karakter? Check.

Gaya bercerita? Check.

Duh, pokoknya bener-bener jatuh cinta sama cerita ini deh.

♥♥♥

Sincerely Yours bercerita tentang Inge, penulis novel thriller yang menetap di Bogor. Sendirian. Tanpa orangtua. Di suatu sore, dalam sebuah ‘kecelakaan’ Inge berkenalan dengan Alan—yang sebelumnya hanya ia ketahui namanya saja.

Inge kira pertemuan pertama mereka adalah pertemuan pertama dan terakhir kalinya bagi mereka. Namun siapa sangka, kalau Alan justru merasa nyaman dengan Inge. Diam-diam mereka berdua terus berharap akan ada pertemuan selanjutnya.

Harapan itu terwujud jadi nyata. Mereka saling mengenal dengan baik. Alan sering bertamu ke rumah Inge yang terkesan dingin tersebut. Sesekali membawakan makanan dan memasak di dapur yang biasanya tak pernah Inge gunakan. Ketika Inge menyadari perasaannya bertumbuh dengan cepat, Inge dihadapkan pada kenyataan bahwa Alan tak sendiri seperti dirinya. Ada Ruby, yang sudah menjejakkan diri dalam kehidupan Alan selama delapan tahun lamanya.

Alan sudah punya kekasih. Dan Inge tak ingin ada pengkhianatan lagi di hidupnya—tidak setelah masa remajanya hancur karena ditinggalkan dan dikhianati.

“Bagaimanapun, sulit menyayangi orang lain kalau kau masih membenci dirimu sendiri.”

—Alan kepada Inge, halaman 115—

♥♥♥

“Karena aku tidak mungkin menjadi pacarmu jika aku jatuh cinta pada orang lain.”

—Alan kepada Ruby, halaman 122—

Entah kenapa gue selalu bisa jatuh cinta dengan tokoh utama yang profesinya merupakan penulis. Hahaha.

Di sini kayaknya nggak ada karakter yang gue sebelin deh. Sekalipun yang menjelang akhir buku akan sedikit menghalangi Alan dan Inge, tetep aja gue bisa berempati sama dia. Pfffft.

Penulis juga memasukkan beberapa nama yang familier, seperti Ika Natassa, Ilana Tan, dan Anastasia Aemilia. Bikin gue berasa bener-bener ‘menyatu’ dengan novel ini, seakan-akan tokoh Inge ini nyata. Hihihi.

Ada aja pemikiran Inge yang bikin ketawa karena kenyataannya memang begitu. Seperti tentang orang-orang yang mengira para penulis saling kenal. Seakan-akan semua penulis tinggal di desa khusus penulis dan mereka bisa saling kenal.

Ada juga pemikiran yang menyentuh dan bikin gue nyender di tembok (?). Tentang masa remaja Inge, tentang perpisahannya, semuanya entah kenapa bagi gue itu menyentuh ya. Walaupun kadang gue juga syebeeel banget sama Inge yang keras kepala.

Tapi ya kalau gue ada di posisi dia, gue juga bakal kayak gitu kali ya?

Hm.

Tokoh Alan di sini pun udah lovable sejak awal. Selalu gemes deh sama cowok yang kayak orang pilon pas bangun tidur—terlebih yang habis dicekokin Esilgan kayak Alan. #lho

Kalau sekarang ini kita banyak baca cerita yang tokoh laki-laki utamanya player, bad boy, dan sejenisnya, Alan seperti oase bagi gue. Digambarkan sopan, ramah, dan baik bikin gue dengan cepatnya jatuh cinta sama dia. Gambaran fisiknya pun nggak berlebihan, terasa pas dan walaupun tangannya kasar gue tetep terima dia apa adanya.

(ditendang)

Bagian yang paling gue suka di sini adalah suratnya Alan. Kata-katanya itu lho, ngingetin gue sama film rom-com yang selalu jadi favorit gue. Gue bakal berdoa dengan sungguh-sungguh, semoga cowok setipe Alan tetap eksis di dunia ini dan berjodoh sama gue. Amin.

(ditimpuk pake bakiak)

Aku berharap pertemuan kita ideal. Aku pria lajang, bertemu denganmu yang juga lajang, lalu aku jatuh cinta padamu dan aku membuatmu jatuh cinta padaku.

—Alan, halaman 169—

Gaya bercerita Mbak Tia yang luwes bikin gue betah untuk terus membuka lembar demi lembar. Sampai nggak rela nutup bukunya cuma untuk bukain pintu depan. (emang dasar lo-nya aja males, Jen) Sekarang gue tau kenapa temen-temen gue selalu bersedia nunggu tulisan Mbak Tia.

Emang keren!

Untuk teknis gue nggak akan banyak bicara sih ya. Gue juga awam kok, hihihi. Cuma ada beberapa salah ketik dan kata-kata yang double, kalau gue nggak salah inget. Lupa sih di halaman berapa, karena gue nggak terlalu terbiasa nandain di mana yang salah. -_- Tapi itu nggak terlalu mengganggu kok, karena udah dibuat jatuh cinta duluan sama ceritanya.

Jadi, total ada empat hati buat cerita manis antara Alan dan Inge. Nggak sabar untuk baca karya Mbak Tia selanjutnya. Terus berkarya ya, Mbak!

(Walaupun harus nunggu dua tahun lagi, nggak apa-apa kok, Mbak. Worth it!)

Empat hatiku buat Alan dan Inge, pasangan yang manis~~
Empat hatiku buat Alan dan Inge, pasangan yang manis~~

jejen

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s